Menelisik kebelakang akar sejarah bangsa melalui penelusuran sejarah Situs Megalitikum Gunung Padang – Cianjur

Jakarta – dKIT, 31 Mei 2019

Sedang mengingat kembali perjalanan dua tahun lalu menuju sebuah situs prasejarah di daerah Cianjur yang konon katanya umur dari situs tersebut berusia lebih tua dari Piramida Giza yang ada di Mesir.

Situs Prasejarah Gunung Padang

Begitulah lazimnya masyarakat menyebutnya yang dua tahun lalu kami menyambangi pertama kali dengan mengandalkan aplikasi peta digital Waze.

Peninggalan kebudayaan Megalitikum tersebut terletak di perbatasan dusun Gunung Padang dan Panggulan, Desa Karyamukti Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Karenanya menjadi terkenal dengan sebutan Situs Gunung Padang.

Lokasi situs berbukit-bukit curam dan cukup sulit dijangkau saat itu dengan mengendarai kendaraan roda empat karena sebagian jalan menuju ke situs masih dalam kondisi berbatu belum teraspal.

Dengan Jarak tempuh kurang lebih 150 Km start dari Cilandak, Jakarta Selatan dan waktu tempuh perjalanan sekitar 5 Jam kami tiba di Situs prasejarah Megalitikum Gunung Padang pukul 13.30 WIB.

Sampai di area situs, yakni di pintu terminal atau area parkir kendaraan kami masih harus melanjutkan perjalanan yang tidak dapat dilalui oleh kendaraan roda empat dengan berjalan kaki untuk sampai di lokasi komplek situs.

Ada dua jalur untuk tiba di lokasi situs yaitu dengan mengikuti jalan melalui pintu masuk utama dengan menaiki sekitar 136 anak tangga dengan waktu tempuh sekitar 20-30 menit atau dengan menggunakan jasa sewa motor (ojeg) dengan melalui jalur yang berbeda seharga Rp50.000 untuk tarif pulang pergi dengan rasa yang cukup mengoyak adrenalin kita di sepanjang perjalanannya.

Saat ini Situs pra-sejarah Gunung Padang sudah cukup di ketahui oleh masyarakat luas bahkan banyak wisatawan mancanegara yang telah berkunjung ke situs Gunung Padang ini.

Dengan tiket masuk Rp.5.000,- per orang wisatawan lokal sudah dapat masuk ke area situs.
Beberapa pemandu wisata berbaju pangsi ala adat sunda pun tampak terlihat siap memberikan penjelasan mengenai keberadaan situs purbakala ini.

Akhirnya dengan ditemani pemandu wisata Abah Zaenal, perjalanan disekitar komplek situs pun kami mulai.

Kompleksnya memanjang, menutupi permukaan sebuah bukit yang dibatasi oleh jejeran batu andesit besar berbentuk persegi. Situs itu dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat dalam.
Luas kompleks utamanya kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara.

Lokasi situs ini dapat dicapai sekitar 20 kilometer dari persimpangan kota Kecamatan Warungkondang, dijalan antara Kota Kabupaten Cianjur dan Sukabumi.

Menurut Abah Zaenal salah seorang pemandu wisata yang ada di Situs Gunung Padang : “Tempat ini sejak lama sebelum adanya penelitian memang telah dikeramatkan oleh warga setempat dan dijadikan tempat ritual oleh sebagian masyarakat atau penduduk yang menganggapnya sebagai tempat petilasan Prabu Siliwangi, Raja Sunda, yang berusaha membangun istana dalam semalam dan berdasar cerita masyarakat fungsi situs Gunung Padang ini diperkirakan adalah tempat pemujaan bagi masyarakat yang bermukim di sana pada sekitar 2000 tahun SM.

Struktur bangunan situs itu sendiri terdiri dari lima teras berundak dimana pada tiap teras wisatawan dapat menemukan sebagian tanda-tanda fungsi dan makna dari tiap teras tersebut.

Pada teras pertama ditemukan batu gamelan, yaitu beberapa batu panjang yang dapat menghasilkan suara dan dapat mengeluarkan bunyi yang berbeda antar gelombang satu dengan yang lain dan alat musik dari batu itu dapat dimainkan dengan benar. Posisi batu gamelan berdekatan dengan sebuah lokasi yang dinamakan Gunung Masigit yang artinya tempat bersuci atau rumah suci.

“Batu Gamelan dan Gunung Masigit di teras pertama ini di ilustrasikan sebagai awal panggilan masyarakat untuk memulai sebuah ritual dengan memainkan sebuah musik khusus dari batu yang bisa mengeluarkan suara tersebut sebagaimana di ibaratkan lonceng atau bedug untuk memanggil umat beribadah,” ungkap Abah Zaenal.

Lanjut pada teras kedua, kami melihat batu kursi dan batu yang di bagiannya tercetak legokan menyerupai telapak kaki manusia. Sementara pada teras ketiga ditemukan sebuah batu yang juga terdapat jejak telapak kaki harimau sehingga disebut batu tapak maung.

Lalu pada teras keempat ditemukan batu pengujian atau batu kanuragan dimana hanya orang-orang tertentu yang dapat mengangkat batu tersebut.

Sedangkan pada teras kelima atau tertinggi ditemukan batu singgasana dan batu pendaringan.
Dimana di teras kelima atau di batu singgasana inilah tingkat tertinggi keilmuan seseorang mendekat pada yang menciptakan nya.

Usia “piramida” Gunung Padang diperkirakan 4.700-10.900 tahun sebelum Masehi dibandingkan dengan piramida Giza di Mesir, yang hanya 2.500 SM usia situs Gunung Padang sangat jauh lebih tua.

Ada beberapa orang yang percaya kalau situs Gunung Padang memiliki keterkaitan dengan situs piramida yang ada di mesir, dikarenakan bentuknya yang mirip dengan ruang didalamnya dan karena umurnya yang jauh lebih tua dibandingkan piramida yang ada di mesir.

Menurut sumber Wikipedia Laporan pertama mengenai keberadaan situs ini dimuat pada Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, “Buletin Dinas Kepurbakalaan”) tahun 1914. Sejarawan Belanda, N. J. Krom juga telah menyinggungnya pada tahun 1949. Setelah sempat “terlupakan”, pada tahun 1979 tiga penduduk setempat, Endi, Soma, dan Abidin, melaporkan kepada Edi, pemilik Kebudayaan Kecamatan Campaka, mengenai keberadaan tumpukan batu-batu persegi besar dengan berbagai ukuran yang tersusun dalam suatu tempat berundak yang mengarah ke Gunung Gede. Selanjutnya, bersama-sama dengan Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, R. Adang Suwanda, ia mengadakan pengecekan. Tindak lanjutnya adalah kajian arkeologi, sejarah, dan geologi yang dilakukan Puslit Arkenas pada tahun 1979 terhadap situs ini.

Pembuktian dan penelitian belum maksimal dan masih terus berjalan, ini menyebabkan pakar geologi masih ragu terhadap “piramida” itu. Terlalu dini untuk diumumkan dan hingga saat ini situs Gunung Padang masih berada dalam masa pengkajian lebih lanjut yang memang membutuhkan energi waktu, tenaga, biaya yang tidak sedikit,” ungkapnya.

Semoga tim ahli yang tergabung dalam Tim Terpadu Riset Mandiri dapat melanjutkan hasil temuan-temuannya di kemudian hari dan menjadikan situs Gunung Padang ini menjadi tambahan keajaiban dunia.

Hingga saat ini kami masih diliputi rasa penasaran dan tanda tanya yang mendalam siapa yang begitu rajin memotong batu-batu andesit yang sebenarnya berada di kedalaman bumi menjadi persegi-persegi panjang dan membawa naik keatas tersusun rapih.

Hanya Tuhan yang Maha mengetahui segala kebenaran nya dan Maha Kuasa menciptakan mahkluk Nya melakukan itu semua.

Semoga masih punya kesempatan untuk mengunjungi kembali situs gunung Padang ini dan menggali cerita perkembangan terbaru dari tempat prasejarah ini sambil menikmati sop dan sate kambing mbak Sumi yang maknyusssssss.

Salam

*/ap

3 respons untuk ‘Menelisik kebelakang akar sejarah bangsa melalui penelusuran sejarah Situs Megalitikum Gunung Padang – Cianjur

Add yours

  1. Apik dan informatif banget tulisannya Mas. Insya Allah nanti aku juga nulis di sini tentang sisi nostalgia Bali. Amiiin 💖💖💖🙏🙏🙏

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: